Selasa, 08 Maret 2022

Manusia boleh saja berencana, tetapi ...

Dengan semangat kita gantungkan mimpi di langit dan berharap bahwa semua usaha akan berbuah manis. Kita sendiri lupa bahwa manusia memang boleh saja berencana, manusia boleh berusaha, manusia boleh bekerja dengan sangat keras untuk mencapai apa yang diinginkan, namun harus diingat bahwa ada yang Maha yang seharusnya diingat. Tidak seharusnya kita terlalu menggantungkan semua mimpi di atas langit dan bergantung akan usaha agar berbuah manis. Bukankah kita tidak punya kuasa untuk menjamin bahwa usaha kita akan benar-benar membawa kita mencapai mimpi? Bahkan bukankah kita pun sebenarnya tidak memiliki kuasa atas diri kita sendiri? Semua yang ada pada diri kita diberikan secara percuma, diatur sedemikian rupa, agar kita bisa menjalankan kehidupan di dunia. Kita bahkan tidak memiliki kuasa untuk mengatur aliran darah pada tubuh, debar jantung, atau bahkan hembusan nafas. Lantas pantaskah kita bergantung pada usaha yang tak seberapa?

Bukannya tidak boleh berusaha, boleh kok, tentu saja boleh, harus malah. Tapi ... harus diingat bahwa kita juga tidak boleh lupa ada Dzat yang berkuasa atas diri kita, lebih mengenali dan memahami diri kita daripada diri kita sendiri. Jadii kalau nih usaha kita ada yang tidak membuahkan hasil janganlah langsung kecewa, jangan langsung bilang “Allah itu ga adil, aku udah berusaha sekuat tenaga loh padahal, kok masih tidak dapat”. Ingat ya ikhtiar itu pakai usaha bukan pakai hati, jadi jangan sedikit-sedikit baper akan ketetapan Allah yang mungkin tidak sejalan dengan keinginan kita. Oleh karena itu untuk mencegah rasa kecewa yang teramat sangat akan sebuah kegagalan, setelah ikhtiar kita sebaiknya perlu tawakkal. Serahkan semuanya kepada Dzat yang Maha Segalanya. Jangan langsung mengutuk bahwa Allah itu tidak adil hehehe.

Sebenernya ukuran adil yang kita gunakan itu yang mana sih? Indikatornya apa? Aku pernah mendengarkan sebuah kajian yang disampaikan oleh Emha Ainun Najib bahwa keadilan Allah akan benar-benar terlihat saat di hari akhir, saat segala kehidupan duniawi ini selesai. Kita ibaratkan saja seperti pertandingan sepak bola. Pertandingan sepak bola memiliki waktu 2x45 menit, keberhasilan atau kemenangan suatu tim tidak bisa langsung dilihat di menit ke 45 karena memang pertandingan belum berakhir. Apabila wasit menentukan pemenang ditengah-tengah pertandingan barulah bisa kita bilang bahwa itu adalah sebuah ketidakadilan. Nah kira-kira begitulah kehidupan. Layaknya sebuah pertandingan sepak bola, keadilan Allah akan terlihat sebenar-benarnya di akhir perjalanan kita di dunia. Jadi tidak seharusnya kita langsung mengatakan bahwa Allah itu tidak adil.

Tidak semua yang kita inginkan dan kita mimpikan itu baik loh untuk kita, oleh karena itu Allah sengaja merenggut keinginan kita, bukan untuk membuat kita kecewa, bukan. Hanya saja Allah ingin menjauhkan kita dari hal yang menurut kita baik tetapi ternyata mungkin hal tersebut kurang baik untuk kita. Allah tidak masalah kok akan ungkapan kekecewaan kita yang kita lontarkan dan tertuju pada Allah saat kita kecewa, mau sekeras apapun itu. Allah tetap teguh dan sibuk untuk menyiapkan rencana yang lebih baik untuk kita.

Minggu, 06 Maret 2022

Tentang Rumah yang Tak Lagi Ramai

Setelah kata "Ibu" tak lagi terucap, rumahku jadi sedikit sendu. Tak lagi ramai dengan pertanyaan-pertanyaan yang menanyakan dimana letak kaos kaki ataupun sepatu. Tak lagi hangat ditengah hujan dan mendung yang abu-abu. 
Tak ada lagi celotehan yang membuatku jengkel kemudian menyesal karena telah membantah. Tak ada lagi yang bawel karena handuk yang tidak diletakkan di tempatnya. 
Ya, inilah kehidupan. 
Ada yang datang, ada yang pergi.
Dibalik kehilangan, ada yang bisa ditemukan.
Dengan kehilangan inilah aku menemukan diriku sendiri. 
Memang rumah tak lagi ramai, tapi dalam kesunyian rumah yang saat ini, aku bisa memahami dan menemukan banyak hal yang sebelumnya bahkan belum pernah aku ketahui.
Aku jadi tahu, bagaimana lelahnya menjadi seorang ibu. Memasak, cuci piring, cuci baju, beres-beres. Semuanya dilakukan seorang diri.
Aku jadi tahu, bagaimana pusingnya mengelola keuangan dalam sebuah keluarga. Bagaimana caranya membuat semua orang yang ada dalam rumah merasa cukup. Padahal sebenarnya kekurangan.

Rumah memang tak lagi ramai, tapi riuh di kepala sungguh tidak akan pernah santai.