Dengan semangat kita gantungkan mimpi di langit dan berharap
bahwa semua usaha akan berbuah manis. Kita sendiri lupa bahwa manusia memang
boleh saja berencana, manusia boleh berusaha, manusia boleh bekerja dengan
sangat keras untuk mencapai apa yang diinginkan, namun harus diingat bahwa ada
yang Maha yang seharusnya diingat. Tidak seharusnya kita terlalu menggantungkan
semua mimpi di atas langit dan bergantung akan usaha agar berbuah manis. Bukankah
kita tidak punya kuasa untuk menjamin bahwa usaha kita akan benar-benar membawa
kita mencapai mimpi? Bahkan bukankah kita pun sebenarnya tidak memiliki kuasa atas
diri kita sendiri? Semua yang ada pada diri kita diberikan secara percuma,
diatur sedemikian rupa, agar kita bisa menjalankan kehidupan di dunia. Kita
bahkan tidak memiliki kuasa untuk mengatur aliran darah pada tubuh, debar
jantung, atau bahkan hembusan nafas. Lantas pantaskah kita bergantung pada
usaha yang tak seberapa?
Bukannya tidak boleh berusaha, boleh kok, tentu saja boleh,
harus malah. Tapi ... harus diingat bahwa kita juga tidak boleh lupa ada Dzat
yang berkuasa atas diri kita, lebih mengenali dan memahami diri kita daripada
diri kita sendiri. Jadii kalau nih usaha kita ada yang tidak membuahkan hasil
janganlah langsung kecewa, jangan langsung bilang “Allah itu ga adil, aku udah
berusaha sekuat tenaga loh padahal, kok masih tidak dapat”. Ingat ya ikhtiar
itu pakai usaha bukan pakai hati, jadi jangan sedikit-sedikit baper akan
ketetapan Allah yang mungkin tidak sejalan dengan keinginan kita. Oleh karena
itu untuk mencegah rasa kecewa yang teramat sangat akan sebuah kegagalan, setelah
ikhtiar kita sebaiknya perlu tawakkal. Serahkan semuanya kepada Dzat yang Maha
Segalanya. Jangan langsung mengutuk bahwa Allah itu tidak adil hehehe.
Sebenernya ukuran adil yang kita gunakan itu yang mana sih?
Indikatornya apa? Aku pernah mendengarkan sebuah kajian yang disampaikan oleh
Emha Ainun Najib bahwa keadilan Allah akan benar-benar terlihat saat di hari
akhir, saat segala kehidupan duniawi ini selesai. Kita ibaratkan saja seperti
pertandingan sepak bola. Pertandingan sepak bola memiliki waktu 2x45 menit,
keberhasilan atau kemenangan suatu tim tidak bisa langsung dilihat di menit ke
45 karena memang pertandingan belum berakhir. Apabila wasit menentukan pemenang
ditengah-tengah pertandingan barulah bisa kita bilang bahwa itu adalah sebuah
ketidakadilan. Nah kira-kira begitulah kehidupan. Layaknya sebuah pertandingan
sepak bola, keadilan Allah akan terlihat sebenar-benarnya di akhir perjalanan
kita di dunia. Jadi tidak seharusnya kita langsung mengatakan bahwa Allah itu
tidak adil.
Jangan galau ya dek ya
BalasHapus